M. Azzam Arfa • Oct 06 2026 • 194 Dilihat

Daftar Isi
Memahami rukun iman adalah langkah penting bagi setiap Muslim yang ingin mengenal Islam dengan lebih baik. Rukun iman bukan sekadar hafalan, melainkan pokok-pokok keyakinan yang menjadi dasar seorang Muslim dalam mengamalkan ajaran agama Islam.
Dalam ajaran Islam, ada enam rukun iman. Keenamnya mencakup iman kepada Allah, iman kepada malaikat-malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada Rasul-rasul-Nya, Iman kepada hari akhir, serta iman kepada qada dan qadar.
Bagi seseorang yang baru belajar Islam, memahami enam perkara ini secara bertahap akan membantu membangun pemahaman agama yang lebih kokoh. Sebab, iman tidak berhenti pada pengakuan di dalam hati. Keyakinan yang benar seharusnya juga tercermin dalam cara seseorang beribadah, mengambil keputusan, menghadapi masalah, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Secara sederhana, rukun iman adalah perkara-perkara pokok yang wajib diyakini oleh seorang Muslim.
Istilah iman berkaitan dengan keyakinan dan pembenaran terhadap perkara yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Sebagian perkara iman dapat kita saksikan, sementara sebagian lainnya termasuk perkara gaib yang tidak dapat diketahui hanya melalui pancaindra. Karena itu, seorang Muslim membenarkannya berdasarkan wahyu yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.
Enam rukun iman tersebut adalah:
Salah satu dalil yang paling terkenal tentang enam rukun iman terdapat dalam Hadis Jibril. Ketika Malaikat Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ tentang iman, beliau menjawab:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَاليَوْمِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ». متفق عليه
“Kamu beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada ketentuan baik dan buruk-Nya. Muttafaqun ‘alaih.”
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhori & Muslim dalam hadis Jibril yang membahas Islam, iman, dan ihsan.
Rukun iman yang pertama sekaligus yang paling mendasar adalah beriman kepada Allah سبحانه وتعالى. Iman kepada Allah berarti meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Dialah Pencipta seluruh makhluk, Penguasa alam semesta, dan tempat bergantung seluruh makhluk.
Keyakinan tersebut juga berarti meyakini kesempurnaan nama dan sifat Allah sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.
Allah berfirman:
قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌ
“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”nQS. Al-Ikhlas: 1–4
Ayat ini menggambarkan keesaan dan kesempurnaan Allah. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat disamakan dengan-Nya.
Iman kepada Allah seharusnya tidak berhenti pada ucapan. Keyakinan tersebut memiliki konsekuensi dalam kehidupan seorang Muslim.
Di antaranya adalah:
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” QS. Adz-Dzariyat: 56
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ibadah kepada Allah merupakan tujuan utama penciptaan jin dan manusia.
Rukun iman yang kedua adalah beriman kepada Malaikat-malaikat Allah.
Malaikat adalah makhluk Allah yang diciptakan untuk menjalankan berbagai tugas yang Allah kehendaki. Keberadaan mereka termasuk perkara gaib sehingga manusia tidak dapat mengetahuinya melalui indera mata. Kita mengenal keberadaan dan tugas mereka berdasarkan wahyu.
Allah berfirman:
اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَ ۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ ۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖ ۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ
“Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Mereka juga berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali..” QS. Al-Baqarah: 285
Beriman kepada malaikat berarti membenarkan keberadaan mereka dan meyakini tugas-tugas yang Allah beritakan melalui Al-Qur’an dan Sunnah.
Dalam pembelajaran dasar Islam, kita sering diperkenalkan dengan beberapa malaikat berikut ini:
| Malaikat | Tugas dan keterangan dalam Alquran |
|---|---|
| Malaikat Jibril Allah berfirman: Al-Baqarah ayat 97 قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيْلَ فَاِنَّهٗ نَزَّلَهٗ عَلٰى قَلْبِكَ بِاِذْنِ اللّٰهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَّبُشْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapa yang menjadi musuh Jibril?” Padahal, dialah yang telah menurunkan (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin Allah sebagai pembenaran terhadap apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman.” | Menyampaikan wahyu dari Allah SWT kepada para nabi dan rasul atas perintah Allah. |
| Malikat Mikail Allah berfirman: Al-Baqarah ayat 98 مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّلّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَرُسُلِهٖ وَجِبْرِيْلَ وَمِيْكٰىلَ فَاِنَّ اللّٰهَ عَدُوٌّ لِّلْكٰفِرِيْنَ “Siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail, sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” | Mengatur rezeki, menurunkan hujan, dan menyuburkan tanaman atas perintah Allah. |
| Malaikat Israfil Allah berfirman, Az-Zumar ayat 68 وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَصَعِقَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ اِلَّا مَنْ شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ ثُمَّ نُفِخَ فِيْهِ اُخْرٰى فَاِذَا هُمْ قِيَامٌ يَّنْظُرُوْنَ “Sangkakala pun ditiup sehingga matilah semua (makhluk) yang (ada) di langit dan di bumi, kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian, ia ditiup sekali lagi. Seketika itu, mereka bangun (dari kuburnya dan) menunggu (keputusan Allah).” | Meniup sangkakala pada hari kiamat. |
| Malaikat Malik Allah berfirman, At-Tahrim · Ayat 6 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” | Menjaga pintu neraka. |
| Malaikat Munkar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا قُبِرَ المَيِّتُ – أَوْ قَالَ: أَحَدُكُمْ – أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ، يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا: الْمُنْكَرُ، وَلِلْآخَرِ: النَّكِيرُ “Jika salah seorang dari kalian dimakamkan, maka akan datang kepadanya dua malaikat yang hitam dan biru. Salah satunya bernama Munkar, dan yang lainnya bernama Nakir.” (HR. Tirmidzi no. 1071 | Menanyai amal keburukan manusia di alam kubur. |
| Malaikat Nakir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا قُبِرَ المَيِّتُ – أَوْ قَالَ: أَحَدُكُمْ – أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ، يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا: الْمُنْكَرُ، وَلِلْآخَرِ: النَّكِيرُ “Jika salah seorang dari kalian dimakamkan, maka akan datang kepadanya dua malaikat yang hitam dan biru. Salah satunya bernama Munkar, dan yang lainnya bernama Nakir.” (HR. Tirmidzi no. 1071 | Menanyai amal keburukan manusia di alam kubur. |
| Malaikat Maut (Izrail) Allah berfirman, As-Sajdah · Ayat 11 قُلْ يَتَوَفّٰىكُمْ مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِيْ وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ تُرْجَعُوْنَࣖ “Katakanlah, “Malaikat maut yang diserahi (tugas) untuk (mencabut nyawa)-mu akan mematikanmu, kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” | Mencabut nyawa seluruh makhluk hidup. |
| Malaikat Raqib Allah berfirman, Surah Qaf ayat 17-18 اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيْدٌ ١٧ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ١٨ “(Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya). Yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri.” “Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” | Mencatat amal kebaikan manusia semasa hidup. |
| Malaikat Atid Allah berfirman, Surah Qaf ayat 17-18 اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيْدٌ ١٧ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ١٨ “(Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya). Yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri.” “Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” | Mencatat amal keburukan atau amal buruk manusia. |
| Malaikat Ridwan Allah berfirman, Az-Zumar · Ayat 73 وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗ حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ “Orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan sehingga apabila mereka telah sampai di sana dan pintu-pintunya telah dibuka, para penjaganya berkata kepada mereka, “Salāmun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah kepadamu), berbahagialah kamu. Maka, masuklah ke dalamnya (untuk tinggal) selama-lamanya!” | Menjaga pintu surga |
| Malaikat Harut & Marut Allah Berfirman, Al-Baqarah · Ayat 102 وَاتَّبَعُوْا مَا تَتْلُوا الشَّيٰطِيْنُ عَلٰى مُلْكِ سُلَيْمٰنَ ۚ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمٰنُ وَلٰكِنَّ الشَّيٰطِيْنَ كَفَرُوْا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَآ اُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوْتَ وَمَارُوْتَ ۗ وَمَا يُعَلِّمٰنِ مِنْ اَحَدٍ حَتّٰى يَقُوْلَآ اِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۗ فَيَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُوْنَ بِهٖ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهٖ ۗ وَمَا هُمْ بِضَاۤرِّيْنَ بِهٖ مِنْ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَيَتَعَلَّمُوْنَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۗ وَلَقَدْ عَلِمُوْا لَمَنِ اشْتَرٰىهُ مَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۗ وَلَبِئْسَ مَاشَرَوْا بِهٖٓ اَنْفُسَهُمْ ۗ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ “Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa Kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kufur, tetapi setan-setan itulah yang kufur. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia, yaitu Harut dan Marut. Padahal, keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanyalah fitnah (cobaan bagimu) oleh sebab itu jangan sekali-kali kalian ingkar!” Maka, mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan (sihir)-nya, kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Sungguh, mereka benar-benar sudah mengetahui bahwa siapa yang membeli (menggunakan sihir) itu niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Sungguh, buruk sekali perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir jika mereka mengetahui(-nya).” | malaikat yang diturunkan oleh Allah SWT untuk menegakkan ujian/fitnah bagi manusia |
Malaikat selalu mengawasi amal perbuatan manusia.
وَاِنَّ عَلَيْكُمْ لَحٰفِظِيْنَ ۙ ١٠
كِرَامًا كٰتِبِيْنَ ۙ ١١
“Dan mengapa kamu mendustakan hari pembalasan, padahal sesungguhnya bagi kamu ada para malaikat yang mengawasi semua perbuatanmu.” ayat 10
“yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (amal perbuatanmu).” Ayat 11
QS. Al-Infitar: 10–11
Kesadaran bahwa manusia berada dalam pengawasan Allah dan amalnya dicatat seharusnya mendorong seorang Muslim untuk lebih berhati-hati dalam berbicara maupun bertindak.
Rukun iman yang ketiga adalah beriman kepada kitab-kitab Allah.
Allah menurunkan wahyu kepada para rasul sebagai petunjuk bagi manusia. Karena itu, seorang Muslim wajib meyakini bahwa Allah benar-benar menurunkan kitab-kitab kepada rasul-rasul-Nya.
Di antara kitab yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah:
Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْ نَزَّلَ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًاۢ بَعِيْدًا ١٣٦
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya (Nabi Muhammad), Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab yang Dia turunkan sebelumnya. Siapa yang kufur kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari Akhir sungguh dia telah tersesat sangat jauh.” QS. An-Nisa: 136
Dalil Al-qur’an Tentang Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa عليه السلام
وَاٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ وَجَعَلْنٰهُ هُدًى لِّبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَلَّا تَتَّخِذُوْا مِنْ دُوْنِيْ وَكِيْلًا ۗ ٢
“Kami memberi Musa Kitab (Taurat) dan menjadikannya sebagai petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman), “Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku.” QS. Al-Isra’ · Ayat 2
نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَاَنْزَلَ التَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَ ۙ ٣
“Dia menurunkan kepadamu (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) dengan hak, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, serta telah menurunkan Taurat dan Injil.” QS. Ali ‘Imran · Ayat 3
اِنَّآ اَنْزَلْنَا التَّوْرٰىةَ فِيْهَا هُدًى وَّنُوْرٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّوْنَ الَّذِيْنَ اَسْلَمُوْا لِلَّذِيْنَ هَادُوْا وَالرَّبّٰنِيُّوْنَ وَالْاَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوْا مِنْ كِتٰبِ اللّٰهِ وَكَانُوْا عَلَيْهِ شُهَدَاۤءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوْا بِاٰيٰتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۗ وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ ٤٤
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat. Di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Dengannya para nabi, yang berserah diri (kepada Allah), memberi putusan atas perkara orang Yahudi. Demikian pula para rabi dan ulama-ulama mereka (juga memberi putusan) sebab mereka diperintahkan (oleh Allah untuk) menjaga kitab Allah dan mereka merupakan saksi-saksi terhadapnya. Oleh karena itu, janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah. Siapa yang tidak memutuskan (suatu urusan) menurut ketentuan yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” QS. Al-Ma’idah · Ayat 44.
Dalil Al-qur’an Tentang Kitab Zabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud عليه السلام
وَرَبُّكَ اَعْلَمُ بِمَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيّٖنَ عَلٰى بَعْضٍ وَّاٰتَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًا ٥٥
“Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang di langit dan di bumi. Sungguh, Kami telah melebihkan sebagian nabi-nabi atas sebagian (yang lain) dan Kami anugerahkan Zabur kepada Daud.” QS. Al-Isra’ Ayat 55
Dalil Al-qur’an Tentang Kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa عليه السلام
QS. Ali ‘Imran Ayat 3: Menyebutkan penurunan Al-Qur’an, Taurat, dan Injil.
نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَاَنْزَلَ التَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَ ۙ ٣
Dia menurunkan kepadamu (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) dengan hak, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, serta telah menurunkan Taurat dan Injil
QS. Al-Ma’idah Ayat 46: Menjelaskan pemberian Kitab Injil kepada Nabi Isa as. yang berisi petunjuk dan cahaya bagi orang-orang bertakwa.
وَقَفَّيْنَا عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ بِعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرٰىةِ ۖ وَاٰتَيْنٰهُ الْاِنْجِيْلَ فِيْهِ هُدًى وَّنُوْرٌ ۙ وَّمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَهُدًى وَّمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِيْنَ ۗ ٤٦
Kami meneruskan jejak mereka (para nabi Bani Israil) dengan (mengutus) Isa putra Maryam yang membenarkan apa (kitab suci) yang sebelumnya, yaitu Taurat. Kami menurunkan Injil kepadanya (yang) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya; yang membenarkan kitab suci yang sebelumnya, yaitu Taurat; dan menjadi petunjuk serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
QS. Al-Ma’idah Ayat 47: Perintah agar pengikut Injil memutuskan perkara berdasarkan hukum Allah.
وَلْيَحْكُمْ اَهْلُ الْاِنْجِيْلِ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فِيْهِ ۗ وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ٤٧
Hendaklah pengikut Injil memutuskan (urusan) menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Siapa yang tidak memutuskan (suatu urusan) menurut ketentuan yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang fasik.
QS. Maryam Ayat 30: Pernyataan Nabi Isa bahwa Allah memberinya Kitab dan menjadikannya nabi.
قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗ اٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ ٣٠
Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah. Dia (akan) memberiku Kitab (Injil) dan menjadikan aku seorang nabi.
QS. Al-Hadid Ayat 27: Penjelasan mengenai pemberian Injil serta penanaman rasa santun dan kasih sayang bagi pengikutnya.
ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَاٰتَيْنٰهُ الْاِنْجِيْلَ ە ۙ وَجَعَلْنَا فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ رَأْفَةً وَّرَحْمَةً ۗ وَرَهْبَانِيَّةَ اࣙبْتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْنٰهَا عَلَيْهِمْ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ رِضْوَانِ اللّٰهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا ۚ فَاٰتَيْنَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْهُمْ اَجْرَهُمْ ۚ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ ٢٧
Kemudian, Kami meneruskan jejak mereka dengan (mengutus) rasul-rasul Kami dan Kami meneruskan (pula dengan mengutus) Isa putra Maryam serta Kami memberikan Injil kepadanya. Kami menjadikan kesantunan dan kasih sayang dalam hati orang-orang yang mengikutinya. Mereka mengada-adakan rahbaniah (berlebih-lebihan dalam beribadah). Padahal, Kami tidak mewajibkannya kepada mereka. Akan tetapi, (mereka mengada-adakannya dengan tujuan) mencari keridaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Maka, kepada orang-orang yang beriman di antara mereka Kami berikan pahalanya dan di antara mereka banyak yang fasik.
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai petunjuk bagi manusia. Al-Qur’an juga menjadi kitab terakhir yang menjadi pedoman Umat Islam.
Allah berfirman:
اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًا ۙ ٩
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa bagi mereka ada pahala yang sangat besar” QS. Al-Isra: 9
Karena itu, hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur’an idealnya tidak sebatas membaca. Kita juga sudah seharusnya berusaha untuk memahami pesan-pesannya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari hari.
Bagi pembelajar pemula, belajar dapat dilakukan secara bertahap: mulai dari memperbaiki bacaan & tajwid, memahami arti ayat, mempelajari kandungannya, kemudian mempelajari tafsir dan penjelasan guru dan ulama ahli Al-qur’an.
Rukun iman yang keempat adalah beriman kepada seluruh rasul Allah. Para rasul diutus untuk menyampaikan wahyu dan mengajak manusia kepada jalan yang diridai Allah. Mereka menjadi pembawa petunjuk bagi umatnya.
Seorang Muslim wajib membenarkan seluruh rasul yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Quran, sekaligus meyakini bahwa masih ada rasul yang tidak disebutkan namanya dalam Al-Quran,
Allah berfirman:
اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَ ۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ ۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖ ۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ ٢٨٥
“Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Mereka juga berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali.”. QS. Al-Baqarah: 285
Berikut adalah daftar 25 nabi dan rasul yang wajib diimani dalam Islam beserta surat dan ayat Al-Qur’an dimana nama Nabi dan Rasul disebutkan:
| No | Nabi & Rasul | Surat & Ayat Al-Quran |
|---|---|---|
| 1 | Nabi Adam AS | QS. Al-Baqarah: 37 |
| 2 | Nabi Idris AS | QS. Maryam: 56 |
| 3 | Nabi Nuh AS | QS. Nuh: 1 |
| 4 | Nabi Hud AS | QS. Hud: 50 |
| 5 | Nabi Shalih AS | QS. Hud: 61 |
| 6 | Nabi Ibrahim AS | QS. Al-Baqarah: 124 |
| 7 | Nabi Luth AS | QS. Hud: 74 |
| 8 | Nabi Ismail AS | QS. Maryam: 54 |
| 9 | Nabi Ishak AS | QS. Maryam: 49 |
| 10 | Nabi Ya’qub AS | QS. Hud: 71 |
| 11 | Nabi Yusuf AS | QS. Yusuf: 4 |
| 12 | Nabi Ayyub AS | QS. An-Nisa’: 163 |
| 13 | Nabi Syu’aib AS | QS. Hud: 84 |
| 14 | Nabi Musa AS | QS. Al-Qasas: 29 |
| 15 | Nabi Harun AS | QS. Maryam: 53 |
| 16 | Nabi Zulkifli AS | QS. Al-Anbiya’: 85 |
| 17 | Nabi Daud AS | QS. Sad: 17 |
| 18 | Nabi Sulaiman AS | QS. An-Naml: 16 |
| 19 | Nabi Ilyas AS | QS. As-Saffat: 123 |
| 20 | Nabi Ilyasa’ AS | QS. Al-An’am: 86 |
| 21 | Nabi Yunus AS | QS. Yunus: 98 |
| 22 | Nabi Zakariya AS | QS. Ali ‘Imran: 37 |
| 23 | Nabi Yahya AS | QS. Maryam: 7 |
| 24 | Nabi Isa AS | QS. Al-Baqarah: 87 |
| 25 | Nabi Muhammad SAW | QS. Al-Fath: 29 |
Sebagian besar dari 25 nabi dan rasul ini (18 nabi) namanya dihimpun secara bersamaan dalam Surah Al-An’am ayat 83–86, sementara sisanya tersebar di berbagai surat lain dalam Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam tabel diatas.
Allah SWT Berfirman dalam Al-quran Surah Al-An’am ayat 83–86
وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ اٰتَيْنٰهَآ اِبْرٰهِيْمَ عَلٰى قَوْمِهٖ ۗ نَرْفَعُ دَرَجٰتٍ مَّنْ نَّشَاۤءُ ۗ اِنَّ رَبَّكَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ ٨٣
Itulah keterangan yang Kami anugerahkan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan orang yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.
وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ ۗ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوْحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهٖ دَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ وَاَيُّوْبَ وَيُوْسُفَ وَمُوْسٰى وَهٰرُوْنَ ۗ وَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ۙ ٨٤
Kami telah menganugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya‘qub. Tiap-tiap mereka telah Kami beri petunjuk. Sebelumnya Kami telah menganugerahkan petunjuk kepada Nuh. (Kami juga menganugerahkan petunjuk) kepada sebagian dari keturunannya, yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.
وَزَكَرِيَّا وَيَحْيٰى وَعِيْسٰى وَاِلْيَاسَ ۗ كُلٌّ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ۙ ٨٥
(Demikian juga kepada) Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh.
وَاِسْمٰعِيْلَ وَالْيَسَعَ وَيُوْنُسَ وَلُوْطًا ۗ وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعٰلَمِيْنَ ۙ ٨٦
Begitu juga kepada) Ismail, Ilyasa’, Yunus, dan Lut. Tiap-tiap mereka Kami lebihkan daripada (umat) seluruh alam (pada masanya).
Nabi Muhammad ﷺ merupakan rasul terakhir yang diutus Allah.
Allah berfirman:
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًاࣖ ٤٠
“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, melainkan dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS. Al-Ahzab: 40
Karena beliau adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ.
Beriman kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya mengakui bahwa beliau adalah utusan Allah. Seorang Muslim juga berusaha membenarkan berita yang beliau sampaikan, menaati perintahnya, menjauhi larangannya, serta mengikuti petunjuk beliau dalam beribadah.
Allah berfirman:
مَآ اَفَاۤءَ اللّٰهُ عَلٰى رَسُوْلِهٖ مِنْ اَهْلِ الْقُرٰى فَلِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ ۙ كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةًۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْ ۗ وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ۘ ٧
“Apa saja (harta yang diperoleh tanpa peperangan) yang dianugerahkan Allah kepada Rasul-Nya dari penduduk beberapa negeri adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. (Demikian) agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”QS. Al-Hasyr: 7
Nabi & Rasul Ulul ‘Azmi
Istilah ini berasal dari dua kata bahasa Arab:
Dari 25 nama di atas, ada 5 rasul yang mendapatkan gelar Ulul ‘Azmi (memiliki keteguhan dan kesabaran yang sangat luar biasa dalam berdakwah)
Rukun iman yang kelima adalah iman kepada hari akhir.
Hari akhir merupakan kehidupan setelah berakhirnya kehidupan dunia. Dalam keyakinan Agama Islam, manusia akan dibangkitkan dan dikumpulkan untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dikerjakannya di Dunia.
Keimanan terhadap hari akhir mencakup berbagai perkara yang diberitakan dalam wahyu Aalquran dan Sunnah Nabi, seperti adanya kematian, kehidupan alam barzakh, lalu dibagkitkan dari alam barzakh, serta dikumpulkannya manusia di padang masyar, untuk dihisab, ditimbang amal perbuatannya, serta balasan berupa masuk surga atau neraka.
Allah berfirman:
وَّاَنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَا ۙ وَاَنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبُوْرِ ٧
“Dan sesungguhnya hari kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya, dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.” QS. Al-Hajj: 7
Dunia bukanlah tempat tinggal yang kekal. Kesadaran inilah yang membuat seorang Muslim melihat kehidupan dengan cara yang berbeda.
Kebaikan sekecil apa pun tidak dianggap sia-sia. Begitu pula perbuatan buruk tidak boleh dianggap sepele.
Allah berfirman:
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ ۚ ٧
وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗࣖ ٨
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
QS. Az-Zalzalah: 7–8
Iman kepada hari akhir dapat menjadi pengingat agar seseorang tidak hanya mengejar kesenangan dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.
Rukun iman yang keenam adalah beriman kepada qada dan qadar.
Qada: Ketetapan atau kehendak Allah SWT terhadap segala sesuatu sejak zaman azali (sebelum makhluk diciptakan).
Qadar: Perwujudan atau penciptaan Allah SWT atas segala ketentuan tersebut sesuai dengan kehendak-Nya.
Pandangan Ulama: Dari sisi perbuatan Allah SWT, semua takdir itu baik dan penuh hikmah; bagian yang disebut “buruk” adalah dari sisi akibat yang dirasakan oleh manusia (al-maqdur), bukan dari sifat perbuatan Allah.
Secara sederhana, iman kepada takdir berarti meyakini bahwa segala sesuatu berada dalam ilmu, kehendak, dan ketetapan Allah.
Empat Tingkatan Iman kepada Takdir
Ilmu (Pengetahuan): Meyakini bahwa Allah SWT mengetahui segala sesuatu, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi secara detail.
Kitabah (Penulisan): Meyakini bahwa Allah telah mencatat seluruh takdir makhluk di Lauhul Mahfuz 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.
Masya’ah (Kehendak): Meyakini bahwa apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi.
Khalqu (Penciptaan): Meyakini bahwa Allah SWT adalah Pencipta segala sesuatu, termasuk perbuatan hamba-Nya
Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan keimanan kepada takdir sebagai bagian dari iman dalam Hadis Jibril, termasuk meyakini takdir yang baik maupun yang buruk.
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ
“Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir serta qadha’ dan qadar, yang baik maupun yang buruk.” (Shahih, Hadist riwayat Muslim)
Allah berfirman:
اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ ٤٩
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” QS. Al-Qamar: 49
Namun, keyakinan terhadap takdir tidak berarti seorang Muslim boleh berpangku tangan.
Islam tetap mengajarkan usaha. Seseorang yang ingin mendapatkan ilmu, misalnya, harus belajar, membaca, bertanya, berlatih, dan memanfaatkan kesempatan yang ada. Setelah melakukan usaha, hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.
Di sinilah kita memahami hubungan antara ikhtiar, doa, dan tawakal.
Kita berusaha karena itu merupakan bagian dari tanggung jawab kita. Kita berdoa karena kita membutuhkan pertolongan Allah. Dan kita bertawakal karena hasil akhirnya berada dalam ketetapan Allah.
Apakah Keenam Rukun Iman Wajib Diyakini?
Ya. Keenam rukun iman merupakan satu kesatuan.
Seorang Muslim tidak dapat memilih hanya beberapa perkara lalu meninggalkan yang lainnya. Keimanan mencakup seluruh perkara yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْ نَزَّلَ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًاۢ بَعِيْدًا ١٣٦
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya (Nabi Muhammad), Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab yang Dia turunkan sebelumnya. Siapa yang kufur kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari Akhir sungguh dia telah tersesat sangat jauh.” QS. An-Nisa: 136
Sementara itu, iman kepada qada dan qadar disebutkan secara jelas sebagai bagian dari iman dalam Hadis Jibril.
Bagi orang yang baru belajar Islam, istilah rukun iman dan rukun Islam terkadang masih membingungkan.
Keduanya memang saling berkaitan, tetapi memiliki cakupan yang berbeda.
Rukun Islam
Rukun Islam terdiri dari lima perkara:
Rukun Iman
Rukun iman terdiri dari enam perkara:
Secara sederhana, rukun iman berkaitan dengan perkara yang diyakini, sedangkan rukun Islam berkaitan dengan pokok-pokok ibadah dan amalan dalam Islam.
Keduanya tidak berdiri sendiri. Keyakinan yang benar semestinya memberikan pengaruh terhadap amal dan perilaku seseorang.
Supaya lebih mudah dipelajari, berikut ringkasan enam rukun iman:
| No. | Rukun Iman | Penjelasan Singkat |
|---|---|---|
| 1 | Iman kepada Allah | Meyakini Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah |
| 2 | Iman kepada malaikat | Meyakini keberadaan malaikat dan tugas-tugas yang Allah tetapkan |
| 3 | Iman kepada kitab-kitab Allah | Meyakini kitab-kitab yang Allah turunkan kepada para rasul |
| 4 | Iman kepada rasul-rasul Allah | Meyakini para rasul sebagai pembawa wahyu dan petunjuk Allah |
| 5 | Iman kepada hari akhir | Meyakini adanya kehidupan setelah dunia dan hari pembalasan |
| 6 | Iman kepada qada dan qadar | Meyakini ketetapan Allah sekaligus tetap menjalankan ikhtiar |
Bagaimana Mengamalkan Rukun Iman dalam Kehidupan Sehari-hari?
Rukun iman bukan hanya materi pelajaran yang perlu dihafalkan. Nilai keimanan justru terlihat ketika seseorang menghadapi berbagai keadaan dalam kehidupannya.
Berikut beberapa contoh sederhana.
Ketika mendapatkan kesehatan, rezeki, keluarga, ilmu, atau kesempatan yang baik, seorang Muslim mengingat bahwa semua itu merupakan nikmat dari Allah.
Ia kemudian bersyukur dan berusaha menggunakan nikmat tersebut untuk sesuatu yang bermanfaat.
Masalah hidup tidak selalu dapat dihindari. Namun, iman kepada Allah dan qada-qadar membantu seorang Muslim tetap memiliki harapan.
Ia tidak berhenti berusaha. Ia berdoa, mencari jalan keluar, bersabar, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Iman kepada Allah dan hari akhir mengingatkan seorang Muslim untuk tidak membiarkan kesalahan terus berlanjut. Ia berusaha mengakui kesalahan, bertaubat, memperbaiki diri, dan tidak mengulanginya.
Ketika tidak ada orang lain yang melihat, seorang Muslim tetap berusaha menjaga dirinya.
Ia sadar bahwa penilaian manusia bukanlah satu-satunya hal yang penting. Allah mengetahui apa yang dilakukan hamba-Nya.
Iman kepada kitab dan rasul mendorong seorang Muslim untuk mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah dengan cara yang benar.
Tidak semua informasi keagamaan yang beredar di internet dapat langsung dianggap benar. Karena itu, penting untuk memperhatikan sumber dan merujuk kepada penjelasan ulama atau lembaga keilmuan yang terpercaya.
Enam rukun iman merupakan fondasi keyakinan seorang Muslim.
Keenamnya adalah:
Memahami rukun iman seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menghafal enam poin tersebut. Yang lebih penting adalah memahami maknanya dan melihat bagaimana keyakinan itu membentuk kehidupan seorang Muslim.
Iman kepada Allah mengajarkan kita untuk hanya menyembah-Nya. Iman kepada malaikat mengingatkan kita terhadap perkara gaib yang diberitakan Allah. Iman kepada kitab dan rasul memberikan petunjuk untuk menjalani kehidupan. Iman kepada hari akhir mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir. Sementara iman kepada qada dan qadar mengajarkan kita untuk tetap berusaha, berdoa, bersabar, dan bertawakal.
Bagi pemula, mempelajari rukun iman dapat menjadi langkah penting untuk mengenal dasar-dasar akidah Islam. Pelajarilah sedikit demi sedikit, sertai dengan membaca Al-Qur’an, mempelajari hadis yang sahih, dan bertanya kepada orang yang memiliki ilmu.
Semoga pembahasan 6 rukun iman dan penjelasannya dalam Islam ini dapat membantu kita memahami dasar keimanan dengan lebih mudah dan mendorong kita untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Enam rukun iman adalah iman kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab Allah, rasul-rasul Allah, hari akhir, serta qada dan qadar.
Rukun iman yang pertama adalah iman kepada Allah.
Rukun iman yang keenam sekaligus terakhir adalah iman kepada qada dan qadar.
Salah satu dalil utama mengenai enam rukun iman adalah Hadis Jibril. Dalam hadis tersebut, Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan bahwa iman mencakup iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, dan takdir. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Rukun iman berkaitan dengan perkara-perkara yang wajib diyakini seorang Muslim. Sementara itu, rukun Islam merupakan lima pokok ajaran yang berkaitan dengan syahadat dan ibadah utama, yaitu shalat, zakat, puasa Ramadan, dan haji bagi yang mampu.
Tidak. Beriman kepada takdir tidak berarti meninggalkan usaha. Seorang Muslim tetap diperintahkan untuk berikhtiar dan mengambil sebab yang benar. Setelah itu, ia menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah dengan bertawakal.
Surah Makkiyah · Juz 27 · 96 ayat سورة الواقعة Surat (56) Al-Waqi’ahHari Kiamat Yang Pasti Terjadi Putar Audio Surat Alwaqi...
Panduan Lengkap Dzikir Pagi Dzikir pagi adalah amalan mulia yang dicontohkan Rasulullah SAW sebagai benteng perlindungan, pembuka pintu rezeki, ...
Amalan Bulan Ramadan yang Mendatangkan Pahala Besar Berserta Dalil, Bulan Ramadan adalah bulan yang mulia, penuh dengan berkah, penuh keampunan,...
10 Waktu Berdoa Paling Mustajab Waktu Doa Paling Mustajab (Dikabulkan), Lengkap dengan Dalil Al-Qur’an dan Hadist. Doa merupakan bagian dari i...
Dzikir petang adalah ibadah yang dicontohkan Rasulullah SAW sebagai sarana menutup hari dengan perlindungan Allah SWT. Amalan ini berfungsi seba...
Pengertian Sholat Jenazah Sholat jenazah adalah ibadah khusus yang dilakukan umat Islam untuk mendoakan seorang Muslim yang telah meninggal duni...
